Bukan History

05/06/2009

Banyak Uang Yang Berceceran

Banyak yang duduk termangu-mangu menatap berita soal capres-cawapres, terutama barisan manusia yang kebetulan tidak terlalu beruntung dari sisi finansial.

Bagaimana tidak, seorang juragan angkot sekalipun belum tentu mampu membayangkan uang diatas 1 milliar rupiah. Begitu juga sebagian besar dari rakyat Indonesia. Dan, jumlah rupiah yang akan disebarkan dalam pemilihan presiden nanti bukan mustahil melebihi apa yang dilaporkan oleh masing-masing calon.

Dalam pemilihan walikota di salah satu wilayah Jawa Tengah saja, uang yang disebar sudah lebih dari 5 milliar dari masing-masing calon. Apakah masuk akal kalau untuk pemilihan presiden, tiap pasangan  ‘hanya’  menganggarkan 10-20 milliar. Padahal mereka berkampanye keliling Indonesia, bermalam di hotel berbintang, menghadiri makan malam di restoran ternama, belanja ke pasar, dsb. Belum lagi biaya iklan, minimal di 7 stasiun TV swasta, 24 jam sehari; spanduk dan baliho, poster dan sticker, kaos dan pin, di seluruh provinsi,  di Indonesia.

Banjir uang.

****

(Copy paste dari tetangga)

Oleh Rusdi Mathari – 3 Juni 2009 –

KOMISI Pemilihan Umum, KPU, kemarin mengumumkan dana kampanye dari masing-masing kandidat presiden dan pasangannya yang akan bertarung pada Pemilu Presiden 2009, 8 Juli. Pengumuman itu didasarkan kepada laporan jumlah dana kampanye dari tiga kandidat lengkap dengan sumber pemberi sumbangan, yang masuk ke KPU hingga Senin 1 Juni 2009.

Terungkap dari pengumuman KPU, pasangan Megawati-Prabowo Subianto dan Susilo Bambang Yuhoyono-Boediono melaporkan dana kampanye mereka sekitar Rp 20 miliaran, dan dana kampanye Jusuf Kalla-Wiranto dilaporkan sebesar Rp 10,25 miliar. Ketua KPU Abdul Hafiz Ansyari menjelaskan, dana kampanye Mega-Pro bertambah sekitar 30 persen dari laporan awal dana kampanye mereka yang disampaikan ke KPU tiga hari sebelumnya.Hal yang sama juga terjadi pada pasangan SBY-Boediono dan JK-Win.

Untuk SBY-Boediono meningkat sebesar Rp 225 juta, dan JK-Win bertambah Rp 250 juta. Hafiz akan tetapi menolak menyebutkan asal-usul dana kampanye masing-masing kandidat secara rinci.

Dia hanya mengatakan penyumbang terbesar untuk Mega-Pro adalah Prabowo (Rp15 miliaran) sisanya disumbang oleh Mega. Untuk JK-Win, dananya sebagian berasal dari Partai Golkar (Rp 7 miliar), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Rp 3 miliar).

Yang menarik adalah dana kampanye untuk pasangan SBY-Boediono. Menurut Hafiz, donatur utama SBY-Boediono adalah termasuk PT Sohibul Barokah (Rp 5 miliar), PT Trimanunggal Cipta Abadi (Rp 3,5 miliar) dan PT Sohibul Experindo Internasional (Rp 3,5 miliar). Ada pun Partai Demokrat menyumbangkan Rp 50 juta. Perusahaan apa sebetulnya Sohibul Barokah, dan Sohibul Internasional itu, dan siapa pemiliknya?

Dua perusahaan itu tampaknya dikendalikan oleh orang yang sama, yaitu H. Zainal Abidin. Di Jakarta dia dikenal sebagai pengusaha minyak, di kota asalnya Pandeglang, orang-orang menyebutnya sebagai Raja Minyak. Di Pandeglang itu pula, Zainal dikenal memiliki pondok pesantren Riyadul Mubtadiin, yang beralamat di Bendungan, Cikeusik, Pandeglang. Pesantren ini terdaftar di Daftar Identitas Pondok Pesantren 2006-2007, Provinsi Banten dengan nomor 042360104005.

Empat tahun silam, Presiden Yudhoyono dan Ibu Ani Yudhoyono pernah mengunjungi Riyadul Mubtadiin. Lalu dua tahun lalu, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Soepari menyumbangkan dua ambulans untuk digunakan pesantren milik Zainal itu.

Bendahara
Selain di dua Sohibul tadi, nama Zainal juga tercantum di Trimanunggal. Menurut data KPU, Trimanunggal ikut memberikan sumbangan Rp 5 miliar kepada tim kampanye Demokrat dalam pemilu legislatif lalu. Dia pribadi juga tercatat menyumbangkan Rp 1 miliar untuk keperluan yang sama.

Baik Sohibul Barokah, Sohibul Inspektindo, dan Trimanunggal berkantor di alamat yang sama di Graha Kirana Building, Yos Sudarso No.88 Jakarta Utara 14350. Ketiga perusahaan itu terlibat dalam bisnis jasa transportasi. Sohibul Inspektindo, misalnya, bergerak di bidang bisnis kargo, dan Trimanunggal dikenal sebagai distributor.

Dua perusahaan itu, oleh sebagian orang disebut-sebut juga bergerak di bidang minyak dan gas bumi. Sementara Sohibul Barokah, bergerak di bisnis peralatan dan perlengkapan bank. Benarkah?

Meski pun terdaftar di lembaran Yellow Page, tapi sama sekali tak ada penjelasan peralatan apa saja yang dihasilkan Sohibul Barokah. Tak juga nama-nama bank, yang pernah menggunakan produk mereka.

Ada pun Zainal saat ini tercatat sebagai bendahara di Tim Sukses SBY-Boediono, yang diketuai Mensesneg Hatta Radjasa. Di luar, nama Zainal dikenal sebagai bendahara Demokrat.

Audit Asal-Usul
Penjelasan KPU tentang dana kampanye dari masing-masing kandidat presiden dan wakilnya itu, tentu bukan untuk dipercaya atau tak dipercaya. Karena faktanya, dana kampanye masing-masing kandidat itu bisa melampaui dari yang dicatatkan ke KPU. Yang harus diperhatikan menyangkut dana kampanye yang disebutkan oleh Hafiz itu sebetulnya adalah, di mana masing-masing kandidat menempatkan dana mereka?

Hal itu penting karena dana kampanye dari setiap kandidat diprediksi bakal melampaui dari jumlah dana yang dilaporkan kepada KPU. Pasangan SBY-Boediono misalnya, dipercaya memiliki dana kampanye US$ 100 juta. Pasangan itu juga diketahui memiliki belasan organisasi, termasuk yayasan dan gerakan ini-itu. Antara lain misalnya Majelis Dzikir Nurussalam.

Persoalannya sekarang, lembaga berwenang seperti KPU juga Badan Pengawas Pemilu, Bawaslu, sedikit sekali memberi perhatian terhadap asal-usul sumbangan-sumbangan semacam itu. Padahal untuk memperjelas dari mana sumbernya, sebetulnya sangat sederhana. Antara lain, bisa dilihat dari laporan keuangan masing-masing penyumbang, baik perusahaan maupun pribadi. Dari sana akan diketahui nilai penjualan dan keuntungan, juga jumlah pajak yang mereka bayarkan.

Baik KPU dan Bawaslu, akan tetapi lebih memilih untuk hanya menyoroti batas maksimal sumbangan, Rp 5 miliar dari perusahaan dan Rp 1 miliar dari pribadi itu. Kalau audit itu tidak dilakukan, maka jangan harap akan ada reformasi pada kegiatan politik di Indonesia. Itu pula semakin akan menjauhkan angan-angan untuk membuat negeri ini terbebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme, seperti amanat reformasi 1998.

Tulisan ini juga bisa dibaca di Rusdi GoBlog dan Politikana.com

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: