Bukan History

20/07/2009

Rabiya Kadeer : Ibu Kaum Uighur

Filed under: NEWS — jack @ 21:18
Tags: , , ,

KEHIDUPAN RABIYA TELAH BERUBAH

Dari seorang yang ditabalkan sebagai warga teladan oleh pemerintah Tiongkok pada 1990-an, di abad yang baru ini Rabiya berubah menjadi musuh nomor satu Beijing. Ibu sebelas anak berusia 62 tahun itu dituding sebagai provokator di balik kerusuhan antaretnis di Urumqi, Provinsi Xinjiang, yang total hingga kini telah menewaskan 72 orang.

Tapi, bukan Rebiya Kadeer namanya kalau lantas tunduk dan takluk. “Segala kesulitan yang saya alami dalam hidup menjadikan saya orang yang kuat menghadapi masa-masa berat,” ujar perempuan yang bangga dijuluki Ibu Kaum Uighur tersebut dalam wawancara dengan The New York Times akhir pekan lalu.

Kadeer memang telah merasakan semuanya: manis dan pahitnya kehidupan. Dari seorang pebisnis yang merintis karir sebagai tukang cuci baju hingga menjadi salah satu taipan di Negeri Panda tersebut. Dari warga kelas satu hingga menjadi buangan ke Amerika Serikat (AS) pada 2005 karena dituduh membocorkan rahasia negara.

Berada di pengasingan sama sekali tak meredupkan semangat Kadeer. Wanita yang dua kali menikah itu tetap gigih membela hak-hak kaum Uighur. Salah satu caranya dengan mendirikan dua yayasan Uighur di Negeri Paman Sam. Yakni, Uighur American Association dan World Uighur Congress. Sejak awal didirikan hingga sekarang, Kadeer sendirilah yang memimpin dua lembaga tersebut. Untuk urusan finansial, dua lembaga itu mendapatkan bantuan penuh dari National Endowment for Democracy.

Dalam wawancara di kantor mungilnya yang terletak di kawasan Washington, Kadeer menyatakan bahwa dia ditakdirkan untuk membela kepentingan Uighur. Itu pula yang ditulis dalam otobiografi berjudul Dragon Fighter yang dirilis tahun ini. Dalam buku tersebut, seperti dikutip Washington Post, dia mengatakan bahwa firasat tentang perannya bagi etnis kaumnya itu sudah ada sejak dia lahir.

“Sesuai tradisi, setelah saya dilahirkan, ayah menguburkan kain yang ternoda darah persalinan. Saat menggali lubang, beliau tiba-tiba berteriak, ‘Emas!’ Sejak saat itu, orang tua saya yakin, saya adalah milik masyarakat,” paparnya.

Sejak kecil, Kadeer yang hidup di kawasan miskin Urumqi terbiasa memanfaatkan peluang. Sekecil apa pun peluang itu, diolahnya menjadi bisnis. Mulai menjadi pedagang kaki lima, memperjualbelikan bulu domba, hingga kayu gelondongan. Seiring dengan bertambahnya ilmu bisnis Kadeer, pemerintah Tiongkok pun semakin terbuka dalam perekonomian. Pada 1980-an, bisnisnya tumbuh pesat dan dia tercatat menjadi ratu realestat. Dekade berikutnya, perusahaan-perusahaannya mendominasi dunia bisnis Tiongkok dan Asia Tengah.

Tapi, kesuksesan dalam bisnis memaksa dia mengabaikan keluarga. Dia sering meninggalkan suami dan anak-anaknya demi menempuh perjalanan bisnis. Tidak jarang, dia harus jauh dari rumah selama beberapa bulan. Dalam hal ini, Kadeer berseberangan dengan adat Uighur. Dia pun mulai banyak ditentang oleh keluarga dan masyarakatnya sendiri.

“Sebagai ibu, tentu berat rasanya harus berpisah dengan anak-anak. Tapi, bagi saya, uang sangat menentukan masa depan bangsa. Maka, saya mengejar uang,” katanya.

Dua episode hidup yang bertentangan sudah dilewati Kadeer. Kini, di pengasingan, dia menjalani episode baru. Menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum Uighur. Setidaknya, agar eksistensi etnis minoritas di Xinjiang tersebut diakui. Karena itu, dia sangat menyesalkan tudingan pemerintah sebagai dalang kerusuhan etnis yang sampai sekarang masih menyisakan ketegangan di Urumqi.

“Interaksi saya dengan Beijing dilandasi ketulusan. Saya berharap bisa membantu menyelesaikan konflik di Urumqi,” jelasnya.

Dia berharap, pemerintah Tiongkok bisa mengatasi kerusuhan itu dengan damai. Baginya, kemerdekaan bukanlah opsi mutlak. Yang terpenting adalah perbaikan taraf kehidupan warga Uighur.

Sebaliknya, kolumnis China, Li Hongmei mennuduh Kadeer berupaya mengikuti jejak Dalai Lama, dan beberapa pihak dia-diam telah menggadang-gadang dirinya sebagai Penerima Nobel Perdamaian, seperti Dalai Lama, yang sering disebut-sebut Kadeer sebagai guru spiritual. Seperti juga Sang Dalai Lama, Kadeer selalu penuh semangat menyuarakan prinsip dan keyakinannya untuk memperoleh dukungan internasional. Selama beberapa tahun terakhir, Rabiya Kadeer terus menyuarakan pesan perdamaian untuk kepentingan bangsanya, Uighur. Ia duplikat Sang Dalai Lama, ia menekankan adanya tekanan kebebasan beragama dari pemerintah China terhadap suku Uighur dan keyakinannya…

(Sumber : Jawa Pos; People’s Daily Online)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: